Minggu, 18 Desember 2011

Kajian Puisi Abdul Hadi WM


  1. Karya Abdul Hadi W. M
Dari sederet nama penyair Indonesia mutakhir yang sedang mapan, kita tidak dapat mengabaikan Abdul Hadi WM di dalamnya. Sejak pertengahan tahun 1960-an Abdul Hadi telah membina kepenyairannya, salah satu kumpulan puisinya yang bertajuk “Meditasi” merupakan kumpulan puisi yang memperoleh hadiah sebagai buku puisi terbaik yang terbit pada tahun 1976/1977 dari Dewan Kesenian Jakarta dan pada tahun 1979 mendapatkan hadiah seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Dalam “Meditasi”, Abdul Hadi WM berusaha menguraikan dan menangkap inti dari hidup dan kehidupan, suasana hati serta pengalaman-pengalamannya; terutama mengenai kesepian, kematian dan waktu, yang terungkap dalam sajak:
Laut
Dan aku pun memandang ke laut yang bangkit ke arahku
selalu kudengar selamat paginya dengan ombak berbuncah-buncah
dan selamat pagi laut kataku pula, siapa bersamamu menyanyi setiap
            malam
menyanyikan  yang tak ada atau pagi atau senja? atau kata-kata
laut menyanyi lagi, laut mendengar semua yang kubisikkan padanya
            perlahan-lahan
selamat pagi laut kataku dan laut pun tersenyum, selamat pagi katanya
suaranya kedengaran seperti angin yang berembus di rambutku,
            igauan waktu di ubun-ubun
dan di atas sana hanya bayang-bayang dari sinar matahari yang kuning
            keperak-perakan
dan alun yang berbincang-bincang dengan pasir, tiram, lokan dan
            rumput-rumput di atas karang
dan burung-burung bebas itu di udara bagai pandang asing kami
            yang lupa
selamat pagi laut kataku dan selamat pagi katanya tertawa-tawa
kemudian bagi sepasang kakek dan nenek yang sudah lama bercinta
            kami pun terdiam
kami pun diam oleh tulang-belulang kami dan suara sedih kami yang
            saling geser-menggeser dan terkam-menerkam
kalau maut suatu kali mau mengeringkan tubuh kami biarlah kering
            juga airmata kami
atau bisikan ini yang senantiasa merisaukan engkau: siapakah di
            antara kami
yang paling luas dan dalam, air kebalaunya atau hati kami tempat
            kabut dan sinar selam-menyelam?
Tapi laut selalu setia tak pernah bertanya, ia selalu tersenyum dan
            bangkit ke arahku
laut melemparkan aku ke pantai dan aku melemparkan laut ke
            batu-batu karang
andai di sana ada perempuan telanjang atau kanak-kanak atau saatmu
            dipulangkan petang
laut tertawa padaku, selamatmalam katanya dan aku pun tertawa pada
            laut, selamat malam kataku
dan atas selamat malam kami langit terguncang-guncang dan jatuh ke
            cakrawalan senja
begitulah tak ada yang sebenarnya kami tawakan dan percakapkan
            kecuali sebuah sajak lama:
aku cinta pada laut, laut cinta padaku dan cinta kami seperti kata-kata
            dan hati yang mengucapkannya.
(1973)

Puisi “Laut” di atas merupakan gambaran tentang kesepian yang dirasakan oleh penyair. Lewat puisi inilah si penyair meluapkan semua yang ada di dalam hatinya, mulai dari perasaan sedih, senang, bahagia, kesepian, dll.

Dalam puisi “Laut” penyair menggunakan majas personifikasi. Penyair menggambarkan laut sebagai makhluk hidup (seorang wanita). Kesepiannya membuat ia menjadikan laut sebagai wanita yang dapat diajak bernyanyi, tertawa, merasakan kesedihan bersama.
Baginya laut adalah segalanya, mereka telah menjadi satu-kesatuan yang sudah tak dapat dipisahkan lagi. Tetapi semua yang dirasakannya bukanlah hal yang nyata melainkan sebuah bayangan semu si pengarang. Meski demikian, perasaan cinta mereka hanya mereka saja yang mengetahuinya.
Seolah “lelah” dengan gaya puisi lamanya yang cenderung “samar dan gelap”, maka pada periode akhir 1990-an, beliau kerap hadir dengan puisi-puisi yang bergaya ucap “terang benderang”, seperti:

Barat dan Timur
Barat dan timur adalah guruku
Muslim, Hindu, Kristen, Buddha
Pengikut Zen atau Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani
Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku
Ibrahim, Musa, Daud, Laotze
Sidharta, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih
Namun hanya pada Muhammad Rasulullah
Dan di masjid aku berkhidmad
Walau jejak-Nya
Kujumpai di mana-mana

Puisi “Barat dan Timur” menggambarkan sikap si penyair yang sesungguhnya. Penyair merupakan sosok yang haus dengan ilmu, sehingga beliau berguru dengan siapa pun tanpa memandang agama. Tetapi dari semua gurunya itu, hanya kepada Nabi Muhammad dan masjidlah beliau berkhidmat. Penguasaanya terhadap filsafat Barat dan Timur sama baiknya dan seimbang.

Tipografi
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara sajak dengan prosa. Penyusunan kata dalam puisi sehingga membentuk larik dalam bait merupakan fungsi utama dari tipografi. Tipografi yang digunakan oleh Abdul Hadi dalam puisi ini telah menunjukkan pembaharuan dalam setiap lariknya.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi Abdul Hadi sangatlah sederhana, misalnya dalam puisi “Laut”, beliau menggunakan kata-kata seperti laut, ombak, angin, air, pasir, dan sebagainya yang membuat pembaca berimajinasi dengan pemandangan alam tersebut, namun sangat sulit untuk menafsirkan apa yang ingin penyair sampaikan kepada pembacanya.

  1. Penghargaan dan Kumpulan Puisi
Penghargaan:
  • Sajak “Madura” mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968).
  • Kumpulan Sajak “Meditasi” (1976) mendapat Hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ (1976/1977), Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1979), Hadiah Sastra Asean (1985).
  • South-East Asia (SEA) Write Award, Bangkok, Thailand (1985).
  • Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003).
Kumpulan Puisi
  • Meditasi (Budaya Jaya, 1976).
  • Laut Belum Pasang (Litera, 1971).
  • Cermin (Budaya Jaya, 1975).
  • Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (Pustaka Jaya, 1975).
  • Tergantung Pada Angin (Budaya Jaya, 1977).
  • Anak Laut, Anak Angin (1983).
 Pustaka Acuan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar